Sabtu, 11 Februari 2012

Agar Setiap Langkah Begitu Bermakna


Saat peritah hijrah turun, kaum muslimin di Makkah segera bersiap untuk melakukan hijrah ke Madinah. Kaum kaum kafir Quraisy tidak tinggal diam dengan adanya perintah ini,  segenap daya upaya dikerahkan untuk mencegah kaum muslimin melakukan hijrah. Ditengah persiapan tersebut, ada seorang wanita Makkah yang bernama Ummu Qoys yang sepertinya mempunyai kendala untuk melakukan hijrah sendirian. Pucuk dicinta ulampun tiba, seorang pemuda yang telah lama menaruh hati padanya datang untuk meminang.
‘ Aku hanya mempunyai satu permintaan untuk  maharku, jika kau bisa membawaku hijrah ke Madinah, maka aku akan menerima pinanganmu’ kata Ummu Qoys. Atas izin Allah SWT , mareka akhirnya berhasil hijrah ke Madinah dan menukah.
Permasalahan tidak berakhir begitu saja, segera tersebar berita bahwa ada seseorang yang hijrah karena wanita, sampai muncul istilah Muhajirin Ummu Qoys, mendengar berita tersebut, Rasulullah kemudian mengeluerkan hadist yang sering kali kita dengar: ‘Sesungguhnya amal perbuatan kita tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, ia akan sampai kepada Allaah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya menuju dunia atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju’.       (H.R  Bukhori dan Muslim)
Para ulama membedakan dengan jelas definisi antara niat dan azzam (keinginan yang kuat). Niat adalah niat yang kuat yang sudah diiringi dengan perbuatan menuju keinginan tersebut. Sedangkan azzam hanya sebatas keinginan yang kuat. Seorang yang berkeinginan untuk berjihat, belum dikatakan mempunyai niat untuk berjihat jika dia tidak disertai dengan perbuatan untuk melakukan persiapan jihad. Ini mungkin yang perlu diluruskan dimasyarakat.
Hikmah utama yang bisa kita ambil dari peristiwa ini adalah bahwa Allah sangat menitik beratkan pada niat untuk menilai suatu amalan. Jika niat melakukan amalan sudah bukan karena Allah dan Rasul-Nya, maka akan bertolaklah amalan itu, walau sebanyak dan sebagus apapun amalan itu. Rupanya kualitas lebih ditekankan dari pada kuantitas amal. Jika kualitasnya sudah salah maka kuantitasnya akan salah juga. Tapi jika kualitasmya sudah bagus , maka akan lebih baik jika diiringi dengan kuantitas yang banyak pula.

Ikhlas karena Allah SWT semata
Pernah satu kali seseorang bertanya pada Rasulullah, ‘Bagaimana jika ada seseorang berperang selain dia ingin mengharapkan pahala, juga agar dia menjadi terkenal...?’ Rasulullah menjawab,  “ Sesungguhnya orang itu tidak akan mendapatkan apapun”.        Al-Qur’an juga menjelaskan ketidak ridho’an Allah jika hamba-Nya melakukan amalan selain untuk-Nya, padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.... (Al-Bayyinah : 5)
Tanda-tanda Keikhlasan
>   Mengakui kekurangan diri
Adalah sangat wajar apabila kita melakukan kesalahan. Kita bukan manusia sempurna yang sudah dijamin tidak akan melakukan dosa. Untuk itu sangatlah wajar pula kita tau diri bahwa setiap keberhasilan dalam kehiduoan mungkin hanya 10%nya adalah kontribusi dari diri kita, sedangkan sisanya adalah murni karena Allah SWT semata.
>  Cenderung menyembunyikan amal kebaikan
Amalan yang diceritakan bukan dalam rangka syi’ar akan mengundang adanya perasaan bangga diri. Perasaan seperti itu akan bisa melencengkan tujuan dari amalan itu sendiri bukan karena Allah, tapi karena perasaan itu sendiri. Jika satu saat mereka tidak yakin orang lain merasa takjub dengan amalannya, maka yang terjadi adalah rasa malas dan berat untuk melakukan amalan tersebut.
>  Tidak membedakan amalan seorang prajurit dengan pannglima perangnya
Khalid bin Walid adalah seorang panglima perang yang tak tertandingi, dimanapun beliau ditempatkan disitu pula beliau maraih kemenangan. Sampai-sampai Rasulullah menjulukinya Syaifullah ( Pedang Allah ). Satu saat orang-orang  mengelu-elukan beliau sampai mengarah pada kondisi pengkulturan diri. Untuk menghindari hal ini Sayyidina Umar bin Khatab memerintahkan pemecatan Khalid bin Walid dari panglima menjadi prajurit biasa. Ternyata bukan Post Power Syndrome dialami Khalid bin Walid, tapi bahkan beliau tetap berjuang dengan semangat yang sama saat beliau menjadi panglima perang.
>  Mengutamakan keridho’an Allah SWT dari pada keridho’an manusia
 Keridhoan manusia hanya akan berakhir maksimal sama dengan panjang umur manusia itu sendiri, sedangkan keridhoan Allah SWT membawa konsekuensi lebih panjang. Kita masih akan melewati pertanggung jawaban di alam kubur, kemudian alam mahsyar, baru kemudian alam akhirat. Sayangnya kadang seseorang merasa tidak ‘pede’ saat melakukan suatu kebaikan hanya karena lingkungannya tidak mendukung kebaiakan itu;
> Cinta dan Marah karena Allah SWT
A’a Gym pernah menghukum putranya karena tidak sholat.  Dalam hadist Nabi diajarkan pada anak sejak berumur 7 tahun, dan jika sampai 10 tahun tidak melaksanakan sholat, maka kita boleh memukulnya. Untuk menjalankan hukuman itu beliau terlebih dahulu menjelaskan ke sang anak bahwa ini adalah perintah Allah, kemudian selesai hukuman dilaksanakan beliau langsung memeluk  dan menangis serta meminta sang putra tidak meninggalkan sholat lagi.
> Sabar terhadap panjangnya  jalan
Kita harus sadar bahwa bisa jadi kebaikan yang kita tanamkan atau dakwah yang kita jalankan baru bisa dinikmati oleh generasi sesudah kita. Surga impian bukan sesuatu yang mudah untuk diraih, tapi dia dibalut oleh berbagai rintangan dan cobaan sebagai sarana untuk memisahkan antara orang yang beriman dengan orang yang mengaku beriman.
Allah tidak akan bertanya mengapa kita tidak sukses atau kenapa kita belum meraih kemenangan, tapi Allah akan bertanya sudahkah kita berusaha secara maksimal untuk meraih kesuksesan dan kemenangan.
> Sesuai dengan Syari’at yang dicontohkan Rasulullah SAW
Nabi Muhammad SAW adalah manusia pilihan yang diutus untuk membawa  risalah Islam. Dialah manusia satu-satunya yang paling pahsm bagaimana menerjemahkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sebagai pribadi, kepala keluarga, kepala negara, sahabat, dan peran apapun didalam kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyabut Allah.
Makanya sangat tidak sesuai apabila ada diantara kita yang mengaku sebagai seorang mu’min tapi tetap cara beribadahnya menurut kemauannya sendiri.
Sering kali kita mendengar ungkapan-ungkapan semacam ini dimasyarakat kita. Islam tidak cukup hanya seperti itu. Harapan kita dalam meraih surga berbanding lurus dengan sejauh mana usaha kita mendapatkannya.
Wallahu’alam......